Mari berbagi informasi

PROFIT ORIENTED VS BERKAH ORIENTED


Seorang pebisnis yang sukses mengadu kepada Abah Bestari.

“Abah, saya heran.. sebagai pebisnis saya sebenarnya sudah sangat sukses. Kekayaan saya sudah mencapai 15 digit dalam tiga tahun.. tapi kok saya merasa masih ada yang kurang dan pas dalam hidup ini,” keluh si pengusaha kepada Abah Bestari.

Abah Bestari hanya tersenyum kemudian menjawab, “Wah, hebat ya Anda ini sebagai pebisnis. Susah lho.. mencapai kekayaan sebesar itu tanpa ada keyakinan yang dalam, usaha yang keras, strategi yang jitu dan mimpi yang didorong oleh ketertarikan yang besar.”

“Ya, kalau nggak begitu.. saya nggak mungkin sukses dong,” balas sang pebisnis.

“Berarti the profit is king dong..” tanya Abah Bestari kepada sang pebisnis.

“Ya iyalah Abah.. kalau nggak ngejar untung, trus ngapain bisnis,” tukas sang pebisnis dengan sigap.

“Iya.. nggak salah sih.. tapi itu seperti orang yang mengejar naik perahu. Setelah berhasil naik di perahu yang kecil kemudian berusaha mengejar pindah ke perahu yang lebih besar. Akhirnya karena hanya sekedar berpindah-pindah perahu, orang itu tidak pernah memikirkan kemana tujuan dari perahu yang dia tumpangi,” jelas Abah Bestari kepada sang pebisnis.

“Maksudnya bagaimana, Bah?” kejar sang pebisnis dengan sedikit kesal karena filosofi bisnisnya yang selama ini sangat dipujanya ternyata dikritisi oleh Abah Bestari yang menurutnya jelas-jelas bukan pebisnis sukses.

“Hidup itu seperti menyeberangi lautan dari satu pulau ke pulau terakhir yang menjadi tujuan kita. Setiap orang berhak menegaskan pulau mana yang akan menjadi tujuan akhirnya.

Bagi orang yang sudah jelas tujuan dimana pulau terakhir yang akan ditujunya, baginya tidak penting menggunakan perahu manapun selama itu bisa mengantarnya lebih dekat dengan pulau tujuannya itu.

Orang yang sekedar terkesima melihat perahu yang lebih besar dan mewah tetapi tidak memiliki pulau terakhir yang menjadi tujuannya, akhirnya hanya akan berputar-putar tanpa arah dan dibelenggu oleh nafsunya mengejar perahu-perahu itu.

Saat perahu yang ditumpangi tenggelam di tengah lautan, orang yang memiliki pulau terakhir yang ingin dicapainya akan berusaha mencapai pulau itu dengan perahu apapun asalkan dengan selamat.

Sedangkan orang yang sekedar mengejar perahu terbesar dan termewah pada akhirnya akan mengalami lagi siklus yang sama.

Hingga akhirnya jika tenggelam di tengah lautan, orang yang sedang berusaha mencapai pulau impiannya akan tersenyum bahagia karena setidaknya dia tahu kemana nanti jasadnya akan dibawa untuk dimakamkan.

Sedangkan orang yang sekedar berpindah-pindah perahu hingga tenggelamnya pun masih penasaran dan kemungkinan besar dia sendiri akan mati cemas karena jasadnya hanya akan dibaringkan dimana saja oleh orang lain karena tidak memiliki tujuan yang jelas.”

“Kalau begitu, saya cuma mengejar berpindah-pindah perahu saja ya Bah?” tanya sang pebisnis kepada Abah Bestari.

“Iya.. tapi yang penting kita harus tahu pulau terakhir mana yang akan kita tuju. Sebaiknya sih sebisa mungkin tumpangi perahu terbesar, termewah dan tercepat yang bisa mengantarkan kita sampai disana.

Kalaupun tidak, tumpangi perahu yang paling layak dan aman hingga bisa mengantarkan kita sampai di pulau terakhir tujuan kita,” jelas Abah Bestari sambil menyuruh masuk seorang laki-laki yang menjadi asistennya.

“Abah, ini laporan laba-rugi bulan ini,” kata si asisten Abah Bestari sambil menyerahkan sebuah map kepada Abah Bestari.

Sambil menyampaikan terima kasih, Abah Bestari menerima map tersebut, membukanya dan menandatangani lembaran laporan tersebut.

Sang pebisnis pun hanya bisa melongo saat sekilas mengintip angka yang tertulis di bagian laba yang berderet hingga 20 digit. Padahal Abah Bestari dalam kesehariannya nampak bersahaja.

“Pak, kalau bisa sih tolong berganti filosofi bisnis, dari sekedar profit is king menjadi berkah is king,” kata Abah Bestari sambil mengajak sang pebisnis untuk sholat berjamaah di mesjid dekat rumahnya.

Tulisan ini berasal dari email seorang teman beberapa hari yang lalu.
di edit seperlunya dan semaunya… hehehe…..

teruntuk sahabat


Setitik kasih membuat kita sayang

seucap kata membuat kita percaya

sekecil luka membuat kita kecewa

tapi sebuah persahabatan akan selamanya bermakna…

Banyak orang datang dan pergi dalam hidup

ada yang melintas sekilas tapi begitu membekas

ada yang telah lama berjalan beriringan

tapi tak disadari makna kehadirannya

ada yang begitu jauh dimata tapi penampakannya melekat dihati

ada yang datang dan pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

The greatest memory, the greatest momments.

I’ll always b apart of your life.

Indahnya menikah


Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar “Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri”. Aih…

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi.

Menikah itu Subhanallah indah,  dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja yang lainnya cuma ngontrak, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

Saya jadi ingat kisah tetangga saya, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kerja, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi “perang” hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur “Maafkan Mama ya Pa..”. Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. “Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya” demikian jawabnya singkat.

Ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti.

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki “Surga”.

Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta.

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

Untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.

Tulisan ini ingin aku dedikasikan teruntuk Dini, temanku, sahabatku yang bulan depan akan melangsungkan pernikahan mengarungi bahtera rumah tangga. Doaku semoga kamu bahagia bersama suamimu.